Selasa, 15 November 2011

Kabupatenku Ditengah Kebun Kopi

Oleh Win Ruhdi Bathin*
Karena sudah terbiasa hidup ditengah kebun kopi bersama keluarga dan saudara yang menjadi petani kopi. Kopi menjadi biasa saja.Sudah tradisi dimana setiap keluarga di Gayo, jika tidak bekerja dengan pemerintah ya, jadi petani kopi.
Membuka lahan perkebunan baru merupakan salah satu kebiasaan warga Gayo. Dalam istilah pepatah Gayo sering diucapkan, “sempit ngenaken lues. Nyanya ngenaken temas”,. Maksudnya hijrah dari suatu kampong atau keadaan guna merubah hidup lebih baik. uten berpancang, belang bertene.
Jika seorang anak sudah tamat sekolah menengah atas, dan tidak melanjutkan pendidikan, dia akan pergi bersama warga sekampung membuka lahan hutan untuk dijadikan kebun kopi. Biasanya, warga satu Kampung, akan membentuk suatu kelompok mencari lahan baru.
Jamaknya, hutan yang akan di tebang ini dijaga dan dikuasai seorang warga setempat yang telah terlebih dahulu menetap disana. Orang seperti ini disebut Pawang Uten (Hutan) . Siapapun yang akan membuka lahan, akan ditunjukkan sang pawang hutan, kawasan mana yang belum memiliki pemilik.
Pawang hutan tidak membatasi berapa   hektar lahan yang akan diklaim. Yang penting uang pancang diberikan pada pawang hutan. Satu pancang ukurannya adalah dua hektar . Biasanya harga satu pancang tidak mahal. Hanya ratusan ribu saja.
Setelah sepakat, mulailah hutan yang sudah dibagikan tersebut dirintis, ditebang. Tak ada pilihan lain. Hanya menjadi petani kebun kopi saja yang menerima lapangan pekerjaan paling besar  dan luas.  Apalagi topografi Takengon diwilayah tengah Aceh dan merupakan dataran tinggi bagian dari rangkaian Bukit Barisan. Juga sebagian wilayahnya adalah Kawasan Ekosistim Leuser yang megah itu.
Meski aku bukan dari keluarga petani, karena Bapak adalah pns di dinas kesehatan sementara ibu adalah guru, namun berkebun kopi “seperti” sebuah kewajiban. Semac`am faham. Tidak lengkap hidup tanpa kebun kopi.
Bapakku, saat sebelum menjadi pns dan masih lajang  (disebut dengan sebutan Pak Mantri atau Menteri). Mengikuti kebiasaan “Munene”, atau mencari lahan perkebunan baru,Puluhan tahun silam. Dari sebuah Kampung tradisional yang hingga kini masih ada, Kebayakan ke wilayah Kabupaten Bener Meriah, di Kampung Bathin Kecamatan Bandar.
Mereka Munene dengan berjalan kaki. Melewati gunung pembatas dua kabupaten Aceh Tengah dan Redelong, Ujung Karang yang kemudian sewaktu masih ada HPH di Takengon disebut dengan Bur Oregon.
Berkebun kopi adalah pilihan hidup utama warga Gayo. Ilmu berkebun kopi  didapat warga Takengon karena sebelumnya Belanda sudah membuat perkebunan kopi modern. Di lokasi Burni Bius dan Bergendal.
Ilmu tersebut tersebar secara tradisional .Paska Belanda yang hengkang  karena masuknya Jepang di era pra kemerdekaan, perkebunan milik Belanda oleh penduduk setempat dibagi-bagikan. Perubahan kepemilikan lahan.  Perkebunan Belanda hilang digantikan kebun warga .
Tak ada kawasan Bukit, gunung, dan lembah yang tidak terisi batang kopi. Sepanjang mata memandang. Sepanjang hamparan. Meski semakin jauh kepedalaman sekalipun. Disana aka ada batang kopi dengan naungan batang petai.
Baris-baris kopi ini menjadi sumber utama  ekonomi warga. Seperti napas untuk hidup .Di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah serta sebagian Gayo Lues.
——-
Aceh Tengah terletak  pada koordinat: 4°10”-4°58” LU dan 96°18”–96°22” BT. Merupakan kawasan pegunungan . Belanda menjadikan kawasan Takengon sebagai kawasan peristirahatan dan perkebunan kopi mereka, seperti ditulis. John R Bowen , Di tahun 1924 Belanda dan investor Eropa telah memulai menjadikan lahan didominasi tanaman kopi, teh dan sayuran (John R Bowen, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989, halaman76).
Kemudian, pada Tahun 1933, di Takengon, 13.000 hektar lahan sudah ditanami kopi yang disebut Belanda sebagai komoditas “Product for future”. Masyarakat Gayo, tulis John R Bowen, sangat cepat menerima (mengadopsi) tanaman baru dan menanaminya di lahan-lahan terbatas warga. Perkampungan baru di era tersebut, terutama di sepanjang jalan dibersihkan untuk ditanami kopi kualitas ekspor. Tahun 1920 Belanda mulai membawa tenaga kerja kontrak dari Jawa ke Gayo, untuk menjadi pekerja di perusahaan dammar (pinus mercusi).
Beberapa tulisan saya bisa dilihat tulisan ini juga dimuat di (http://keniGayo.wordpress.com/tag/win-ruhdi-bathin/)dan. Kopi Gayo Made In Belanda, pernah saya tulis untuk Pantau Aceh (http://pantau.co.cc/berita-596-.html).
Meski sudah seratusan tahun lebih Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah bergelut dengan kopi, kemajuan dan perkembangan kopi terbilang lambat dan sangat lambat. Kelamnya nasib petani kopi tergambar dalam berbagai tulisan.
Salah bukti ketertinggalan sector kopi paska Belanda ditunjukkan dengan produksi kopi perhektar pertahun masih antara 600-700 Kg/ha/tahun. Semuanya dijual keluar (eksport) dalam bentuk bahan mentah kopi atau green bean.
Negara-negara yang mengimport kopi Gayo, menjadikan kopi biji hijau (KBH) atau green bean untuk berbagai kebutuhan komersial. Diantaranya untuk gerai-gerai kedai kopi terkemuka. Seperti Star Buck. Star Buck, selain menyediakan kopi arabika Gayo, juga mengambil kopi ternama dari antero dunia.
Pada tahun 2006/2007 eksport kopi arabika dari pelabuhan Belawan Medan, sebanyak  48.637 ton dengan nilai Rp.150,4 juta dolar Amerika.Dataran tinggi Gayo diperkirakan menyumbang sekitar 50 persen dari total eksport kopi arabika lewat Belawan dengan nilai sekitar 75,2 juta dolar Amerika atau sekitar Rp.690 milyar.
Kopi arabika Gayo dieksport dengan beberapa nama, seperti, Mendheling Coffee, Sumatra Mandheling, Retro Mandheling, Sumatra Gayo, Mandheling Gayo, Super Gayo dan Gayo Mountain Coffee.Segment kopi arabika Gayo sebagian besar dipasarkan sebagai kopi spesialti.
Beberapa sertifikat produk yang berprinsip pada pertanian berkelanjutan telah dimiliki seperti, Organik, Fairtrade dan Utz Kapeh.Beberapa eksportir sedang melakukan proses guna mendapatkan sertifikasi CAFE Practices untuk penjualan khusu ke Starbuck Coffee (Panduan Budidaya dan Pengelolaan Kopi Arabika, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, tahun 2008).
——–
Meski kopi arabika Gayo lebih popular di luar daerah dan bahkan diluar negeri. Di Takengon dan Bener Meriah sendiri, warga Gayo lebih menyukai kopi jenis robusta sebagi menu minuman kopi setiap harinya. Disetiap rumah tangga Gayo, kopi arabika berupa bubuk kopi menjadi hidangan utama bagi tamu dan keluarga. Meski luas lahan kopi arabika terus berkurang digantikan arabika yang lebih disukai pasar luar.
Normalnya, warga Gayo minum kopi dua kali sehari. Pagi dan petang. Tapi banyak juga yang meminum kopi tiga kali sehari, seperti minum obat bahkan lebih. Setiap kali istirahat bekerja di kebun dan sawah, kopi menjadi minuman saat istirahat. Bukan minum air putih.
Kopi tumbuh hampir disemua kawasan gunung dan lembah kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.Kecuali kawasan hutan lindung. Selebihnya, dijadikan areal perkebunan kopi yang hingga kini masih terus dibuka.(masukkan data ketinggian tempat)
Banyak cara membuka lahan hutan tropis di Takengon dan Bener Meriah untuk kebun kopi..Batang-batang kayu yang kaya varietas ini “mengerang” dibabat mesin chinsaw atau dipatuk-patuk  kapak-kapak petani. Rebah mencium bumi. Bersemayam menjadi “beje’ (pupuk) bumi.Muncullah batang kopi yang berasal dari biji yang disemai di tanah subur.
—–
Bermula dari kebun kopi, muncullah rumah-rumah sederhana. Rumah kebun. Semakin lama semakin berkembang. Biasanya, setiap kali membuka lahan baru, petani kopi Gayo selalu menyisakan bagian tanahnya untuk dijadikan jalan.
Waktu berubah, hutan menjadi kebun kopi. Rumah semakin banyak, biasanya ditengah kebun kopi atau didekat jalan. Jalan-jalan mulai dikeraskan mencapai areal perkebunan kopi sebagai penghubung dan memobilisasi hasil panen.
Jadilah arela perkebunan kopi menjadi Dusun, Kampung, Kumpulan Kampung-kampung ini menjadi satu Kemukiman  dan menginduk ke Kecamatan terdekat. Beginilah pola terciptanya kawasan Kecamatan hingga Kabupaten di Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Tak heran jika keadaan ini membuat sebuah kota Kecamatan sekalipun berada ditengah jutaan hingga ratusan juta batang kopi. Yang menjadi pemisah antara rumah dan kebun biasanya hanyalah jalan. Selebihnya, setelah sedikit halaman, tumbuhan warga Gayo adalah kopi dan kopi.
Sama halnya dengan kebun teh jika di seputaran Jawa Barat .Hamparan kebun kopi dipisah oleh baris-baris kopi yang cenderung membentuk pola tersendiri. Jarak antara tanaman kopi dalam baris dan antar baris sangat variatif. Dahulu, jaran antara baris kopi adalah 3 meter. Sementara jarak dalam baris kopi sekitar dua meter.
Di era belakangan ini, jarak ini semakin sempit seiring ditemukannya varitas baru yang naungan kanopinya tidak lebar. Jarak antar baris tidak sampai lagi tiga meter. Demikian halnya jarak dalam baris kopi. Tergantung varietas kopi.
Menurut Uwein, dalam blognya . Awalnya ada beberapa varietas kopi di Dataran Tinggi Gayo, seperti,  Bergendal. Varietas Bergendal termasuk varietas atau kultivar kopi Arabika lokal. Dapat tumbuh di ketinggian 1.200 – 1.500 m dpl, sangat rentan terhadap penyakit Karat Daun (Hemileia vastarix, B. et, Br), namun mempunyai mutu yang sangat baik.
Varietas   Ramong . Kopi Ramong dicirikan oleh buahnya yang besar dan panjang, buah dan bijinya paling besar di antara kultivar kopi arabika yang ada di Dataran Tinggi Gayo, namun jenis ini sudah mulai jarang dijumpai, karena varietas ini memerlukan tempat yang lebih lebar karna pertumbuhannya yang begitu pesat.
Varietas Sidikalang .Varietas ini sangat rentan terhadap penyakit karat daun (Hemileia vastarix, B. et,Br), dapat tumbuh di ketinggian 1.200 – 1.500 m dpl. Varietas ini mempunyai mutu yang sangat baik sehingga sangat disukai oleh konsumen di luar negeri.
Kopi varietas  Jember (Lini. S) .Di Dataran Tinggi Gayo varietas ini banyak di tanam pada ketinggian sedang (800 – 1000 m dpl), tahan terhadap penyakit Karat Daun (Hemileia vastarix, B. et, Br), rentan terhadap serangan hama bubuk buah kopi (Stephanoderes hampei. Ferr) dan hama penggerek batang (Zeuzera Coffeae), selain itu varietas ini juga mempunyai mutu yang kurang baik sehingga sudah mulai ditinggalkan oleh petani
Kopi Varietas Tim Tim Arabusta .Varietas ini berasal dari Timor Timur yang merupakan hasil persilangan alami antara kopi arabika dengan kopi robusta, mempunyai mutu fisik biji yang sangat bagus namun tidak disukai oleh konsumen di luar negeri, karena citarasanya masih diturunkan oleh kopi robusta.
Kopi Varietas Ateng Jaluk ( Catimor Jaluk) .Varietas Catimor Jaluk oleh masyarakat tani lebih sering menyebut dengan nama kopi Ateng. (uwein/the project OSRO). Selain varietas ini masih banyak varietas lain yang muncul belakangan.
Varietas tersebut antara lain, Timortimur, Borbor (Bourbon), Ateng Super (Katimor), Ateng Ilang Pucuk (Katimor), Ateng Super (Katimor), P88 dan sejumlah varietas lainnya.
Dua varietas kopi di Gayo (Takengen dan Redelong) yang sudah dijadikan kopi unggul , dilepas secara resmi oleh pemerintah Indonesia dengan nama Gayo1 untuk Timortimur dan Gayo2 untuk Borbor. Kedua varietas ini sudah melewati serangkaian penelitian ilmiah di Bener Meriah (Redelong) dan memiliki rasa dan aroma yang disukai konsumen.
Jika anda ke Dataran Tinggi Gayo di Aceh, Sumatera, jangan heran jika memasuki wilayah Aceh Tengah dari Pesisir Utara Aceh, Kabupaten Bireuen, yang berjarak 102 kilometer menuju Ibu Kota Aceh Tengah, Takengon, jalan yang dilalui adalah kawasan perbukitan yang terjal dan curam.
Suhu udara akan terus semakin dingin seiring pertambahan ketinggian tempat Aceh Tengah  yang berada 1200 Diatas permukaan laut (Dpl). Melewati perbatasan Aceh Tengah dan Bireuen, suasana berubah drastic.
Pemandangan kebun karet, sawit, pinang, kelapa dan coklat, digantikan kebun-kebun kopi disepanjang jalan Negara ini. Petani kopi Gayo cenderung menanami kebun mereka dengan mono kultur. Hanya pohon-pohon kopi.
Beberapa tanaman lain yang sering dijadikan tanaman pelengkap selain varietas kopi berskala kecil adalah jeruk. Terutama jeruk Keprok Gayo yang pernah memenangkan buah unggul nasional beberapa tahun silam. Juga ditanami Alpukat. Naungan utama kebun kopi adalah pete dalam bahasa local Gayo yang berarti lamtoro.
Tak ada lahan yang kosong kecuali ditanami kopi. Kopi yang merupakan “napas ekonomi” sebagian besar rakyat Gayo ditanam karena kemudahan penjualannya. Jika panen tiba, biasanya setahun dua kali Selepas panen  petani langsung menjual buah kopinya.
Kopi jenis ini disebut kopi gelondong segar.Biasanya dijual dalam takaran kaleng. Jika dikilogramkan, satu kaleng sekitar 12.1 kg. Satu kaleng sama dengan sepuluh bambo. Satu bambo setara dengan dua liter. Kopi petani langsung dibeli agen kopi di tingkat Kampung langsung dari kebun menggunakan kenderaan roda dua.
Uang “cash” ini langsung dipakai untuk kebutuhan sehari-hari bagi keluarga petani. Begitu seterusnya. Di tingkat agen, pembelian dari kopi-kopi petani setempat diolah. Kopi gelondong merah dipisahkan dari kulit buahnya. Menggunakan sebuah alat giling (pulping)
Kemudian difermentasi selama lebih kurang 12 jam lalu dibersihkan dan dijemur untuk dijadikan kopi labu. Kopi labu adalah kopi tanpa kulit tanduk hasil penggilingan (huller) dengan kadar air sekitar 35-40 persen.
Agen, terkadang biasanya langsung menjual kopi labu ini sesaat setelah penggilingan. Transaksi terjadi di lokasi-lokasi penggilingan kopi. Oleh agen kopi yang lebih besar, biasanya mangkal di mesin kopi , kopi labu dijadikan KBH (Kopi Biji Hijau ) atau kopi beras (green). Kadar airnya sekitar 20 persen keatas. Kopi ini disebut kopi asalan.
Kopi asalan dijual lagi ke pedagang yang akan menjadikannya kopi yang siap diperdagangkan  dengan kadar air 14-18 persen. Biasanya kopi ini dijual ke eksportir di Medan Sumatera Utara.
Sangat sedikit persentase petani yang menjadi pedagang kopi dengan cara mengolah kopi gelondong  menjadi kopi setengah jadi atau green bean. Konon lagi yang bergerak dibidang pengolahan kopi roasting dan café modern dengan mesin espresso.
Namun di akhir-akhir ini, sekitar tiga tahun belakangan, di Bener Meriah sudah ada warga setempat yang mengolah kopi menjadi kopi roasting dan dijadikan bubuk kopi serta membuat café. Namanya H Yusrin dengan merek Bergendal  Kopi.
Selain Haji Yusrin, juga ada Wawan, yang memakai produk Taiwan untuk mesin roastingnya dengan merek Premium Coffee. Segelintir warga lainnya mengolah kopi dijadikan bubuk dengan kemampuan dan pengetahun sendiri.
Sementara di Takengon, saya coba membuat kopi olahan berupa café  dengan mesin kopi espresso. Sangat prospek. Hanya saja mimpi saya memiliki mesin roast masih sangat sulit terwujud karena sangat mahal.
Padahal idealnya, selain menyediakan kopi , sangat ideal memiliki mesin roast sehingga bisa memasuki segmen kopi lainnya, yakni kopi bubuk. Karena segmen kopi bubuk dengan bahan baku yang melimpah masih sangat terbuka lebar mengingat kopi Gayo sudah mendunia.
Takengon dan Redelong , dua kabupaten di tengah Aceh, NAD, merupakan kawasan yang semua wilayahnya dipagari kopi. Jadi sangat layak jika Pemda kedua Kabupaten ini mulai memproklamirkan diri sebagai kabupaten kopi di Indonesia.
Selain itu, dengan luasnya kopi sepanjang kawasan dan mata memandang bak hamparan permadani hijau, sangatlah layak kalau kawasan ini dijadikan agro wisata kopi. Sayang, Pemda belum bisa membaca dan tertarik melihat potensi ini. Meski Belanda saat menjajah dulu sejak seratusan tahun silam telah menjadikan kopi salah satu komoditi eksport. Sayang sekali, visi dan misi dua kabupaten terbesar penghasil kopi arabika di Asia, tidak jelas dibidang kopi. Sayang seribu sayang . Padahal kedua bupati di kawasan pedalaman Aceh itu adalah sarjana pertanian.
Belum lagi jika bertani tradisional Gayo, yakni membajak sawah menggunakan hewan untuk mengolah sawah hingga panen memakai cara tradisional , sangat layak dijadikan obyek wisata bagi turis asing yang menyukai kearifan local yang tidak mereka dapat di negara maju.
Semua Potensi ini belum dijadikan “Modal” untuk dijadikan  sumber lain bagi penduduk local dan PAD bagi Pemda. Semuanya memerlukan sentuhan dan kebijakan pro rakyat , bukan pro proyek yang bernilai fee bagi pemangku kepentingan serta alat politik penguasa untuk tebar pesona. Tinggal nawaitu dan aksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar